Dinantinya keadilan, tetapi hanya ada kelaliman…

Published Oktober 1, 2009 by misstreeantoz

“Sebab kebun anggur Tuhan semesta alam ialah kaum Israel, dan orang Yehuda ialah anam-tanaman kegemaranNya; dinantinya keadilan, tetapi hanya ada kelaliman, dinantinya kebenaran tetapi hanya ada keonaran” (Yes 5: 7)

Kutipan Kitan nabi Yesaya di atas menunjukkan bahwa Allah merasa sangat kecewa dengan bangsa Israel, umat kesayanganNya. Dengan segala susah dan derita Allah telah mengusahakan yang terbaik bagi umat pilihan yang paling Ia sayangi. Segalanya telah disediakan oleh Allah, seperti layaknya kebun anggur yang menjadi tanaman idaman dan kegemaran Allah sendiri. Dengan sekuat tenaga sang pemilik kebun telah menyiapkan lahan. Ia memenuhi semua kebutuhan yang perlu demi mendapatkan hasil buah anggur yang manis. Akan tetapi apa yang dihasilkan oleh kebun anggur Tuhan? kelaliman dan keonaranlah yang dihasilkan. Tidak ada lagi keadilan; tidak ada lagi kebenaran. Betapa kecewa dan sakit hati sang pemilik kebun anggur itu. Sebab yang dihasilkan baginya hanyalah buah yang masam dan tidak berguna. Demikianlah kira-kira kritik bnabi Yesaya untuk soal keadilan di tengah umat Israel jaman itu. Pertanyaannya adalah apakah persoalan yang diangkat oleh nabi Yesaya tersebut masih relevan untuk masyarakat Indonesia jaman ini? Andaikata kita menjawab masih relevan, lalu dimana letak relevansinya dengan persoalan yang kita hadapi saat ini?
Hari Jumat, 25 September 2009 sebuah stasuin televisi swasta nasional menayangkan wawancara dengan para korban lumpur Lapindo. Mereka yang hidup bertahun-tahun menjadi korban yang yak pernah merasakan manisnya keadilan. Mereka masih terkatung-katung hingga saat ini. Salah satu korban dengan nada hampir putus asa mengungkapkan: “Tolong jangan kasihani saya, tetapi kasihanilah anak-anak saya yang membutuhkan makanan, rumah dan sekolah… jika saya harus kontrak dan kontrak setiap tahun, berarti saya harus berpindah-pindah rumah. Bagaimana dengan sekolah anak-anak saya? Mereka juga harus pindah sekolah setiap tahun. Jangan kasihani saya, tetapi kasihanilah anak-anak saya yang sebelas ini.” Kira-kira demikianlah kisah bapak dengan sebelas anak yang menjadi salah satu dari sekian banyak korban Lapindo dengan keadaan menyedihkan. Sebuah kenyataan yang sangat ironis; ketika banyak orang berlomba mennumpuk kekayaan dan kekuasaan. Bangsa Indonesia yang kaya akan sumber alam, kelengkapan hukum dan pemerintahan namun rakyatnya jauh dari keadian. Para pemimpin yang pernah berlomba menebar janji untuk membangun kesejahteraan bagi rakyat Indonesia tak lagi menunjukkan giginya. sementara kemiskinan dan kehancuran membayang di depan mata para korban lumpur Lapindo. Mereka merasa sangat susah untuk mendapatkan yang namanya keadilan. Hak yang harus mereka dapatkan, yaitu ganti rugi atas tanah dan rumah yang mereka miliki satu-satunya tak pernah terealisasikan. Siapa yang harus bertanggungjawab atas semua ini? Siapa yang harus menanggung kesusahan mereka? Apakah Tuhan masih dapat disebut sebagai Yang mahaadil?
Seperti layaknya Tuhan yang mengusahakan kebun anggurNya dengan berbagai hal yang dibutuhkan, demikian juga bangsa Indonesia ini telah dianugerahi segalanya. Tetapi apa yang dihasilkan oleh bangsa Indonesia? Buah anggur yang masam. Tuhan menantikan keadilan dan kebenaran dari para petinggi bangsa khususnya, namun yang dihasilkan oleh orang-orang pilihan ini hanyalah keonaran dan kelaliman. Kesusahan rakyat tidak pernah ditanggapi dengan serius, justru kelaliman yang semakin diagungkan. Kesejahteraan rakyat bukan lagi menjadi perhatian. Mereka berebut kekuasaan, kursi yang empuk hanya demi diri sendiri. Akibatnya adalah tak ada buah yang dihasilkan oleh para petinggi atau buah masam yang mereka hasilkan. Kenyataan yang sangat mirip dengan yang dikritisi oleh nabi Yesaya.
Jika demikian, apakah upah yang akan diberikan oleh Tuhan untuk umatNya yang tidak menghasilkan sesuai dengan yang diharapkan oleh Dia? Apabila para pemimpin bangsa ini hanya memikirkan diri mereka sendiri dan tidak pernah ingat akan segala kebaikan Dia yang berkuasa atas alam ciptaan ini, maka kesibukan diri itulah yang akan menjadi bumerang bagi mereka. Bangsa Indonesia akan sibuk dengan urusan dan kepentingannya sendiri hingga mereka lupa akan bahaya dari luar. Mereka tidak akan pernah ingat untuk melindungi dan menyelamatkan bangsa karena kepentingan diri masih menjadi yang utama. Oleh karena itu, tidaklah heran jika ancaman dari luar semakin gencar sebab pagar dan tembok telah dihancurkan. Dan Allah akan membiarkan bangsa ini merasakan akibat dari segala ulah perbuatannya. Inilah upah dari ketidakadilan; upah dari sikap mementingkan diri sendiri dan bukan melihat apa yang dikehendaki oleh Allah. Semakin keadilan dilupakan dan diabaikan, maka kelaliman dan keonaran akan merajalela. Semakin kebenaran tidak diindahkan, maka kehancuran suatu bangsa menjadi taruhannya.
“Aku akan menebang pagar durinya, sehingga kebun itu dimakan habis, dan melanda temboknya, sehingga kebun itu diinjak-injak;(Yes 5: 5)

Mistrianto, CM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: