Selibat, doa dan relasi dengan masyarakat: antangan imam jaman sekarang

Published Januari 26, 2010 by misstreeantoz

Fernando Lugo Mendez adalah seorang uskup San Pedro, Paraguay. Ia menunjukkan kedekatannya kepada orang miskin dan tertindas selama ia menjadi seorang imam dan uskup. Pada tahun 2007 ia masuk partai polotik dan dapat disebut berkecimpung dalam politik praktis hingga ia memenangkan pemilu presiden pada 20 April 2008. Akhirnya paus Benediktus XVI melepas status Lugo sebagai imam SVD (Hidup No.31 tahun ke-63-2 Agustus 2009). Fenomena yang diwakili oleh Lugo adalah salah satu dari sekian banyak fenomena yang dihadapi oleh imam jaman sekarang. Kehidupan imam sekarang ii memang penuh dengan tantangan. Jatuh bangun dalam kehidupan seorang imam merupakan jalan menuju kekudusan. Kudus dalam pengertian perjanjian Lama adalah konsep pribadi yang dikhususkan. Akan tetapi seorang imam juga adalah manusia biasa yang bisa jatuh dalam dosa. Dalam konteks Perjanjian Baru dan jaman sekarang, kesucian imam tidak hanya dilihat dari kerohanian belaka. Kesucian juga perlu dikaji dari segi daya tahan seorang imam dalam menjalankan imamatnya.
Pada akhir-akhir ini banyak imam yang disorot oleh banyak orang terutama kalangan umat karena soal perilaku yang terlalu ‘berpihak’ pada umat yang kaya atau ‘kedekatan’pada ibu-ibu muda atau sejenisnya( Presbyterium Edisi 11 tahun3, November-Desember 2009). Disamping itu juga ada sekian banyak persoalan yang berkaitan dengan tantangan hidup seorang imam dalam jaman sekarang. Bagaimanapun juga seorang imam adalah pemimpin yang menjadi sorotan bagi banyak orang terutama umat. Setiap tingkah laku dan kegiatan para imam selalu mendapat perhatian dan menjadi bahan perbincangan. Jika demikian, apa sebenarnya yang menjadi tantangan seorang imam jaman sekarang?
Tantangan terbesar bagi imam jaman sekarang adalah soal kemampuan imam berdialog dengan umat. Secara harafiah dialog dapat diartikan sebagai percakapan antara satu pribadi dengan pribadi yang lainnya. Dalam hubungaannya dengan peran seorang imam, dialog dapat dipahami sebagai percakapan antara imam dan umat dalam hubungannya dengan persoalan-persoalan yang saat ini dihadapi imam maupun umat. Bagaimana seorang imam mampu berdialog untuk memecahkan persoalan yang ia hadapi baik secara pribadi maupun berhubungan dengan umat. Dialog bukan hanya seputar pemecahan persoalan, namuan mencakup soal menjadi seorang pribadi yang dekat dengan umat apapun latar belakangnya(Presbyterium Edisi 11 tahun3, November-Desember 2009)
Tiga kenyataan yang ada di atas, mulai dari tantangan keberpihakan pada orang miskin yang berbenturan dengan hirarki Gereja, sorotan umat terhadap tingkah laku seorang imam, maupun tantangan imam sebagai pemimpin untuk mampu berdialog dengan umat sebagai seorang gembala yang sejati adalah sebagian kecil dari sekian banyak kenyataan yang menghadirkan bahwa hidup seorang imam tidak akan terlepas dari tantangan yang berasal dari dalam dirinya sendiri maupun dari pihak luar. Apakah kenyatan itu akan menjadikan masa depan seorang imam semakin suram? Ataukah tantangan tersebut justru memicu semangat para caln imam jaman ini? Berawal dari paparan di atas tulisan ini akan mengulas tiga poin berhubungan dengan hidup seorang imam, yaitu doa, selibat dan relasi dengan masyarakat.
Imam dan Doa
Seorang imam disebut ‘a man of prayer’, manusia pendoa. Imam dipanggil untuk memperbarui dan memperdalam relasi umat dengan Kristus. Doa adalah relasi seseorang dengan Kristus, suatu sikap hati atau suatu keberadaan kita di hadapan Kristus. Doa bersama memang penting untuk seorang imam, namun tidak menutup kemungkinan pada pentingnya doa pribadi. Doa-doa pribadi sering menjadi kekayaan pribadi untuk membangun hidup doa bersama(Kevin J. Fitzpatrick; 1992, hlm.25). beberapa komentar yang berkaitan dengan kehidupan para imam jaman sekarang ini adalah perbandingan dengan imam-imam dalam era duapuluh tahun yang lalu. Para imam sekitar duapuluh tahun yang lalu sering hadir dengan memegang rosario ketika berjalan atau bepergian. Berbeda dengan imam jaman sekarang, di mana para imam bepergian atau berjaan-jalan dengan membawa handphone. Apakah hal ini disebut sebagai kemerosotan dalam hidup rohani? Banyak umat mengajukan kritik terhadap fenomena sekarang itu. Akan tetapi menurut hemat kami ada hal positif yang sebenarnya masih dapat diambil dibalik fenomena yang ada. Handphone sekarang ini telah banyak dilengkapi dengan fasilitas untuk membantu pengembangan hidup rohani, mulai dari ayat Kitab Suci sampai dengan renungan dan doa. Persoalannya adalah pengendalian diri dan penggunaan fasilitas yang sesuai dengan perkembangan jaman ini oleh seorang imam, apakah para imam menggunakan fasilitas yang ada ini sebagai sarana untuik semakin membangun hidup doa dan tidak kalah dengan para imam yang setia mendoakan rosario mereka sepanjang hari? Inilah tantangan yang harus dihadapi oleh para imam jaman ini. Bisakah sarana-sarana yang mereka miliki saat ini menjadi pemicu dan pendekat hati mereka untuk membangun relasi yang semakin intim dengan Yesus Kristus?
Bagaimana Gereja menyikapi krealitas yang ada untuk pembinaan para calon imam dalam menghasilkan imam-imam yang kuat dalam menghadapi tantangan jaman ini? Dalam komunitas pembinaan banyak seminari yang saat ini masih menerapkan prosedur larangan dan hukuman. Ketika situasi di luar seminari banyak anak muda berhadapan dengan aktivitas narsis dan tidak bisa lepas dari teknologi. Seminari tidak menutup diri terhadap realitas tersebut. Banyak seminari mulai membuka diri dengan berusaha melek teknologi dan informasi. Akan tetapi masih ada sekat-sekat yang tetap dipertahankan oleh beberapa seminari, misalnya penggunaan teknologi yang dibatasi. Sementara pengembangan hidup rohani dikaji kembali. Ini adalah sebuah usaha yang bagus dimana seminari bertanggungjawab untuk membentuk kader-kader pemimpin Gereja atau para imam yang memiliki hidup rohani yang tinggi; relasi yang dekat dengan Allah. Akan tetapi apakah visi seminari ini sudah dipahami dengan sungguh oleh para subyek bina; dimana mereka masih berpikir soal yang menyenangkan dan sesuai dengan tren jaman sekarang? Bahaya yang perlu diantisipasi adalah kesadaran dari masing-masing pribadi untuk menangkap apa yang dituju oleh seminari dan secara khusus Gereja universal. Jika masing-masing pribadi belum sampai pada pengertian bahwa pembudayaan di seminari itu untuk mencetak imam yang memiliki kualitas hidup doa tinggi, maka hasilnya adalah pelampiasan ketika seminaris keluar dari seminari. Mereka akan lupa jatidiri mereka sebagai orang yang ‘dikuduskan’. Mereka akan jatuh pada arus jaman dan semua yang dibina selama di komunitas pembinaan adalah sebuah kenangan yang sekarang tidak lagi dipegang. Hidup doa menjumpai tantangan yang berat ketika berbenturan dengan teknologi dan infornasi yang semakin pesat.
Imam dan Selibat
Selibat adalah salah satu topik yang tidak pernah akan habis untuk dibicarakan dalam gereja Katolik Roma. Bnayak orang selalu bertanya, mengapa imam harus selibat? Pandangan yang sempit melihat selibat sebatas pada soal seseorang tidak kawin. Akan tetapi ada orang yang dapat memahami selibat sebagai kebebasan menyerahkan diri kepada Kristus dan sesama(Kevin J. Fitzpatrick; 1992, hlm. 66). Kardinal Carlo Martini dalam sebuah tanya jawab dengan umat mengungkapkan bahwa hidup selibat memang dimasukkan dalam hukum Gereja Katolik Roma. Jika kita berada di gereja ritus timur, kita akan menjumpai banyak imam yang tidak selibat karena memang disana diijinkan. Dalam jawabannya, kardinal Martini membedakan dua unsur selibat, yaitu segi spiritual dan sosial. Kebiasaan selibat dalam ereja katolik Roma berawal dari tradisi monastik(para rahib)yang ingin memberikan diri mereka seutuhnya secara bebas kepada Allah. Mereka ingin meneladan cara hidup Yesus yang memilih untuk htidak menikah. Dalam perkembangannya gereja katolik Roma menetapkan disiplin selibat sebagai peraturan yuridis dalam konsili trente pada abad XVI.
Pendapat sekilas yang ada di awal tulisan ini mengenai fenomena para imam yang disorot oleh b anyak orang karena ‘kedekatan’ dengan para ibu muda atau janda-janda memang cukup gencar. Tambahan lagi ketika ada seorang imam yang keluar atau melepaskan diri dari imamatnya. Komentar atau tanggapan yang pertama kali muncul adalah karena soal perempuan atau selibat. Inilah realitas yang ditampilkan dan harus dihadapi oleh para imam jaman sekarang. Meskipun demikian, apakah realitas ini harus kita pahami sebagaimana yang ada ataukan kita perlu menelaah kembali lebih dalam, apa yang ada di balik semua fenomena ini? Imam adalah sebiah pilihan dan pilihan ini dilandasi dengan kebebasan yang telah dibangun selama bertahun-tahun berada dalam pembinaan. Mengapa para imam harus disayangkan ketika berhadapan dengan tantangan selibat yang awalnya adalah pilihan bebas dan kemudian dipungkiri? Ingat bahwa selibat ini bukan dogma melainkan soal peraturan. Maka disposisi batin dalam kaitannya dengan peraturan kiranya perlu ditelaah ulang, sejauh mana peraturan itu bukan hanya mengikat tetapi juga membangun kesadaran yang dihidupi karena para imam menaruk kebebasan mereka untuk menaati peraturan tersebut.
Imam dan masyarakat kecil
Masyarakat dalam arti sempit untuk tulisan ini adalah mereka yang berada di bawah, mereka yang miskin, tidak memiliki ruang dan suara untuk memperbaiki hidup mereka. Kasus yang dihadapi oleh Fernando Lugo adalah kenyataan ketika seorang imam melihat penderitaan umatnya, Ia tidak bisa menutup diri dan lari dari keprihatinan atau jerutan suara hatinya. Ia berusaha utnuk dekat dengan umat, ikut berjuang bersama mereka dan berusaha keras untuk membangkitkan kesejahteraan masyarakat kecil. Akan tetapi dalam gereja Katolik roma ditekankan untuk tidak terlibat aktif dalam politik praktis. Sekalipun seorang imam memiliki keprihatinan yang mendalam dengan kemiskinan, ia tidak pernah diperkenankan terjun dalam politik praktis. Kasus yang dialami oleh Lugo adalah ketika pilihannya berbenturan dengan aturan Gereja. Akhirnya Gereja melepaskan statusnya sebagai seorang imam. Bahaya lain yang bisa menjadi tantangan para iman jaman sekarang ini adalah jatuh pada dktivisme, dimana hidup akttif menjadi kebanggaan sementara hidup rohani atau doa kurang diperhatikan.
Pada dasarnya semua berbenturan pada yang namanya peraturan. Setiap institusi memiliki aturan main dan ketentuannya masing-masing. Setiap pribadi yang ingin menggabungkan diri pada institusi tersebut tidak dapat dengan semaunya sendiri menentukan pilihan tanpa mengindahkan peraturan yang ada dalam institusi tersebut. Persoalannya adalah ketika peraturan tidak ditangkap sebagai sesuatu yang menumbuhkan. Dengan demikian tantangan yang dihadapi oleh para imam jaman sekarang baik yang berhubungan dengan doa, selibat dan masyarakat pada dasarnya bukan tantangan yang baru. Semua hendaknya dipahami sebagai penyaturagaan pribadi ke dalam institusi. Jika setiap imam telah memiliki integritas yang tinggi terhadap apa yang mereka imani, maka mereka tidak akan jatuh dalam satu ekstrem, atau lari dari ketentuan yang ditetapkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: